DEMI ALLAH, AKU MENCINTAIMU! (versi BM)
Oleh : R. Fathoni.
Dari gerak-gerinya aku tahu pasti: dia ingin menyatakan sesuatu.
“Ada apa? Kan elok berterus terang saja, jangan ditahan, nanti kan jadi ‘stress’!” Aku memecah keheningan suasana malam itu.
“Tapi abang jangan marah ya!” pinta isteriku dengan serius.
“Astaghfirullahal adziim… Belum apa-apa sudah su’udhon (berburuk sangka) pada suami… “
“Akan kuceritakan kalau abang berjanji tak akan marah… “ masih serius dia memohon, menambah rasa kegelisahanku akan apa yang akan dia sampaikan.
“Baiklah, insya Allah aku tidak akan marah.”
“Sebenarnya abang ni sayangkn Rani atau tidak, bang?” Ucapannya mengejutkanku. Dan suatu yang klasik sekali, kebiasaan laki-laki di negeri ini, aku menjawab dengan:
”Mengapa kau bertanya begitu?”
”Hmm! Abang marah, kan... ”
”Tetapi mengapa kau bertanya begitu? Mengapa?!” Egoku sebagai laki-laki meninggi.
”Kalau abang marah begitu, aku tak jadi ceritalah...” Dengan sedikit menggeser badannya dari tempat dia duduk, dan dengan air mukanya yang seolah-olah tanpa dosa itu, dia seakan tahu bagaimana hendak menguasai diriku.
”Baiklah... Mengapa kau bertanya begitu?” Aku tetap tidak menjawab pertanyaannya.
Entah mengapa, laki laki di negeri kami amat jarang mengungkapkan kata-kata cinta bahkan kepada isterinya sekalipun. Bahkan ketika ditanya dengan pertanyaan sejelas itupun, terasa kelu lidah ini untuk sekedar menjawab, ”Aku sayang padamu, Rani...”
Bagi kami, kaum laki-laki, cinta tidak perlu diungkapkan dengan kata-kata. Cinta adalah memberikan kepada orang orang yang kami cintai apa yang mereka perlukan. Cinta adalah bekerja keras membanting tulang mencari nafkah untuk diberikan kepada anak, isteri dan orang tercinta kami. Cinta itu demikian kuat, demikian dalam, demikian terang memancar dari dalam hati kami hingga kami sangat yakin bahwa rasa cinta itu sanggup menembus hati isteri isteri kami meskipun tidak pernah kami ucapkan.
Kuatnya keyakinan itu membuat kami memaksa isteri-isteri kami memahami hal itu: Jangan sekali-kali kamu tanyakan cinta kami, sebab cinta kami adalah cinta murni, bukan cinta biasa yang penuh dengan kata-kata puisi. Cinta kami adalah dengan memberi bukti, bukan dengan kata janji.
Maka ketika cinta itu ditanyakan, bahkan ketika belum dipertanyakan, bagi kami terdengar sebagai sebuah hukuman (verdict): engkau belum boleh memberikan yang terbaik untukku!
Itulah kami, para lelaki. Pertanyaan sederhana yang hanya memerlukan jawaban sederhana: ya atau tidak, menjadi sebuah pertanyaan kompleks yang diiringi dengan beratus anggapan (prejudice): Abang tidak cinta kepadaku karena nafkah yang abang berikan sedikit; atau: abang tidak cinta kepadaku karena banyak permintaanku yang belum abang penuhi; atau, Abang tidak cinta kepadaku karena aku lihat akhir akhir ini sering pulang lewat... dst.
”Abang harus jawab dulu pertanyaan Rani, sebenarnya abang sayang Rani atau tidak?” Air mukanya mulai serius.
Marah dengan asal-usul pertanyaan itu, akhirnya hatiku aku berikan jawapan:
“Baiklah…! Abang Anto sayang sangat pada Rani.”
“Betulke?!”
“Betul!”
“Terima kasih, abang Anto!”
Sekilas kulihat pipi isteri tercintaku menjadi kemerah-merahan.
Suasana menjadi agak hening. Aku menjadi kekuk. Belum pernah aku alami suasana itu sepanjang pernikahan kami yang sudah menghasilkan dua orang anak ini.
Macam di filem saja, pikirku. Aku termasuk orang yang berpendapat kisah-kisah dalam filem adalah kisah di dunia lain. Dunia nyata harus berbeda dengan dunia perfileman.
”Sekarang giliran abang Anto yang tanya. Mengapa Rani bertanya seperti itu?” Aku memecah keheningan sesaat itu.
”Rani bersedia menjawab asalkan abang Anto berjanji dulu.”
”Janji apa?”
”Janji tak akan marah setelah mendengar jawapan Rani.”
Jiwa kelelakianku kembali terusik. Pasti jawabannya tidak menyenangkan dan pasti mengundang kemarahanku.
Tetapi kali ini, karena rasa kemarahanku yang semakin menjadi–jadi, aku bisa mengawal diri, dan menjawab: ”Abang janji tak akan marah.”.
Tentu saja kata-kata itu hanya untuk mempercepat aku memperoleh jawapan dari isteriku, mengapa dia bertanya seperti itu.
”Abang, Rani sudah tidak tahan lagi untuk tidak mengungkapkan hal ini...”
Kata-katanya mempercepatkan degup jantungku.
”Dalam sebulan ini Rani beberapa kali bermimpi. Dan dalam dua minggu terakhir ini mimpi itu semakin sering hadir dalam tidur Rani. Dalam mimpi–mimpi itu Rani bertemu dengan teman teman laki-laki sekelas dik Rani waktu SD, SMP dan SMA*. Orangnya lain-lain, tetapi mimpinya sama, bang...! ”
Rani berhenti bercerita. Matanya mulai berkaca–kaca. Kalimatnya menjadi bergetar di akhir kalimat.
Setelah mengelap air matanya yang mulai mengalir, ia melanjutkan ceritanya.
”Dalam mimpi-mimpi itu selalu saja teman teman Rani kata...”
Ia berhenti lagi. Air matanya semakin deras.
”Mereka kata, ‘aku sayang sama kamu, Rani!....’”. Tangisnya pun pecah mengiringi kalimat terakhirnya itu.
Bagai disambar petir kepala ini. Seluruh darahku terasa naik ke kepala. Aku marah bukan kepalang. Aku cemburu. Dan sejurus kemudian, aku menghakimi: Dasar isteri tak tahu diuntung! Punya suami yang baik-baik macam ni, kenapa boleh membayangkan laki–laki lain. Bagaimana tidak? Darimana datangnya mimpi -mimpi itu kalau tidak dari angan-angan yang kuat?
Seakan tahu pasti bakal reaksiku, si Rani isteriku segera membela diri.
”Tapi, abang! Demi Allah! Rani tidak pernah mengingat ingat mereka, apalagi membayangkan mereka! Sungguh, bang! Demi Allah!”
Aku tetap diam menahan marah.
”Lihatlah, bang! Kalau memang Rani membayangkan mereka, tidak mungkin Rani akan ceritakan pada abang Anto seperti ini!”
Kalimat terakhir ini sedikit memancing logik akalku bekerja, setelah beberapa ketika tidak berfungsi karena seluruh tenagaku terarah pada emosiku. Tetapi kemarahanku sudah terlanjur mencapai ke kemuncaknya. Kemarahan memang membuat logik akal tidak berfungsi. Untungnya aku segera tersedar. Teringat perintah Rasulullah SAW, aku segera mengambil wudhu. Kemarahanku sedikit mereda. Tapi belum benar–benar padam. Seperti biasa, jika marah, aku terdiam dan tidak mau melihat wajah isteriku. Meskipun masih satu ranjang, malam itu kami tidur dengan saling membelakangkan; posisi tidur yang diccela oleh Rasulullah SAW.
Malam itu barangkali adalah malam terburuk sepanjang sejarah pernikahanku dengan Rani, junior di fakulti pengajianku. Seperti kebiasaan pernikahan para aktivis masjid di kampus, kami diperkenalkan, dan dijodohkan oleh ustadz kami. Pernikahan kami adalah pernikahan gaya baru untuk ukuran masyarakat kami. Kami tidak bertunang. Setelah diperkenalkan, kemudian ada “chemistry” di antara kami, tahap selanjutnya adalah terus ke jinjang pernikahan. Majlis pernikahan kami pun sederhana.
Maklumlah, kami telah menikah sebelum pengajian kami selesai. Kami tidak ingin membebani orang tua kami dengan pembiayaan pernikahan yang sangat tinggi, pada masa itu, kami pun belum dapat berdikari dari segi kewangan kami.
Hari demi hari, bulan demi bulan kami menjalani kehidupan rumah tangga kami. Dua anak pun sudah dikurniakan kepada kami. Sebelum lulus pengajian, aku bekerja di sebuah lembaga bimbingan belajar terkemuka. Di samping itu aku juga memberi tuisyen untuk jiran-jiran rumah sewaku. Setelah lulus aku bekerja pada sebuah perusahaan engineering consultant. Sementara itu Rani sibuk dengan dua anak lelaki kami yang memang masih memerlukan ibunya sepenuh masa; Rani tidak bekerja. Saya yakin model keluarga kami adalah contoh kebiasaan keluarga aktivis dakwah kampus.
Hingga kejadian malam itu, aku merasa Allah telah menjadikan keluarga kami menjadi tauladan bagi pasangan muda dalam masyarakat kami. Setidaknya itulah yang pernah kudengar dari beberapa temanku. Aku merasa menjadi laki-laki paling bahagia di muka bumi. Kami kelihatan selalu mesra, nampak bahagia dan harmoni, dan boleh dikatakan tidak ada pesoalan rumah tangga yang serius dalam keluarga kami.
Tidak ada persoalan kewangan, komunikasi antara suami-isteri, atau persoalan tidak segera diselesaikan hingga menjadi bualan orang; tiga persoalan utama yang sering kami temui di keluarga teman-teman kami. Tetapi pengakuan Rani malam itu sungguh membuat aku merasa hancur. Kebahagian yang selama ini aku banggakan ternyata hanyalah kebahagiaan ilusi atau angan-angan. Aku merasa gagal. Keharmonian keluarga kami yang dilihat orang ternyata kosong dan hampa . Aku merasa sedih, karena ternyata aku gagal melihat kenyataan bahkan ketika kenyataan itu adalah kehidupanku sendiri.
”Ustadz, boleh jumpa sebentar, saya ada persoalan yang ingin saya bincangkan dengan ustadz.”
”Persoalan apa?”
”Masalah rumah tangga, ustadz!”
”Mau nikah lagi?”
”Ah, taklah ustadz! Saya sedang ada persoalan dengan Rani.”
”Baik, nanti malam ba’da ’isya’ insya Allah saya ada di rumah.”
”Jazaakallahu khairan, Ustadz!”
”Amiin, walakum.”
Ustadz Rahmat adalah salah satu ustadz kami. Di kalangan aktivis, beliau terkenal sebagai ustadz pakar rumah tangga. Beliau menjadi perantara pernikahan hampir semua aktivis. Beliau juga biasa menjadi rujukan teman–teman ketika mendapat persoalan dalam kehidupan rumah tangga. Pagi itu, setelah acara ta’lim pagi yang biasa diselenggarakan di masjid kampus, saya membuat perjanjian dengan beliau untuk membincangkan permasalahan yang sedang saya hadapi.
“He he he.... . Anto..., Anto.!” Ustadz Rahmat tersenyum setelah mendengar penuturanku tentang mimpi-mimpi Rani; termasuk juga kecemburuanku dan perasaan kegagalanku.
“ Aku tidak mengira, ternyata kau dan Rani yang selama ini nampak harmoni ternyata punyai masalah juga. Sebenarnya ini masalah klasik, dan sederhana sekali. Bahkan sudah sering menjadi tema dalam perbincangan mingguan. Jadi... sekali lagi saya terkejut juga mendengar kata-katamu.”
Aku terdiam. Aku mencoba mengingat ingat pertemuan mingguan yang pernah kuikuti. Tetapi aku tidak mendapatkan satupun yang relevan dengan kes aku ini.
“Coba ambil kitab Riyadhus-Shalihin di rak buku itu!” ustadz Rahmat memintaku mengambil kitab Riyadhus-Shalihin terjemahan bersampul biru di rak buku di belakangku. Tidak sulit aku mendapatkannya. Riyadhus-Shalihin adalah kitab kumpulan hadits yang biasa kami telaah, baik di pertemuan mingguan maupun bacaan kedua di rumah tangga setelah AlQur’an.
“Bab berapa ustadz?” Seperti biasa, kamilah yang beliau minta membuka dan membaca sendiri ayat atau hadits yang ada di dalam sebuah kitab, ketika beliau ingin mengajari kami sesuatu.
”Coba buka bab keutamaan cinta karena Allah, di jilid I. Kira kira halaman 300-an.”
Sedemikian seringnya kitab itu dijadikan rujukan, ustadz Rahmat hafal betul letak halamannya.
Dan, terbukalah halaman 317, tertulis judul: Pasal: Keutamaan cinta karena Allah, dan menganjurkan serta memberitahu kepada Allah, dan orang yang dicinta karena Allah, dan jawaban orang yang diberitahu.
”Sudah ketemu?”
”Sudah, Ustadz!”
”Coba kamu baca hadits terakhir dari Pasal itu!”
”Baik, Ustadz!”
Aku balik lembar demi lembar, dan sampailah mataku tertuju hadits nomor 11, hadits terakhir dari Pasal keutamaan cinta karena Allah.
”Anas r.a. berkata: Ada seseorang duduk di sisi Nabi SAW, tiba tiba berlalu seorang laki–laki, dan berkatalah orang yang duduk di sisi Nabi SAW tersebut: ”Wahai Rasulullah, sungguh saya sangat menyayangi orang itu.”
Nabi SAW bertanya, ”Apakah sudah kauberitahu padanya, bahwa kau cinta kasih kepadanya?” Jawabnya: ”Belum.”. Lantas bersabda Nabi SAW: ”Beritahulah ia!”.
Maka dikejarnya orang itu dan berkatalah ia kepadanya, ”Sungguh, demi Allah, Aku sayang cinta kepadamu!”. Maka orang itu menjawab, ”Semoga Allah menyayangi dan mencintaimu, sebagaimana kau mencintaiku karena Dia.” (HR. Abu Dawud).
Aku terdiam setelah membaca hadits itu. Aku tergamam, seoleh-olah hadits itu baru saja aku baca. Padahal, secara logik, seharusnya hadits itu seharusnya sudah aku baca dan aku pelajari, sebab sudah dua kali aku mengkhatamkan Riyadhus-Shalihin. Tak terasa, air mata menitis membasahi pipiku.
“Anto,...” Ustadz Rahmat memecahkan keheningan sesaat itu.
”Berapa kali kau ucapkan kepada isterimu bahwa kau mencintainya karena Allah?”
Aku terdiam. Sejurus kemudian aku menjawab, ”Belum pernah, Ustadz!”
”Anto, ketahuilah, wahai saudaraku; manusia tidak bisa membaca kata hati manusia yang lain. Tidak pula dengan malaikat. Hanya Allah dan kitalah yang tahu isi hati kita masing–masing. Karena itulah, Rasulullah mengajarkan kepada kita, kalau kita mencintai seseorang karena Allah, maka sampaikan kepadanya bahawa kita mencintainya. Apalagi dengan isteri–isteri kita.”
”Tetapi, ustadz, tidak cukupkah perbuatan dan kebaikan saya kepada isteri saya selama ini menjadi bukti cinta saya kepadanya?”
“He he he... . Seharusnya sudah cukup. Paling tidak menurut pikiranmu. Tetapi tidak menurut Rasulullah SAW, sebagaimana hadits yang baru kau baca. Ingatlah, wahai Anto, Allah menciptakan manusia berbeda–beda. Jangan kau samaratakan semua orang. Jangan kau anggap semua manusia memiliki pemikiran dan perasaan seperti yang kau punyai. Apalagi wanita, Anto! Mereka adalah makhluk Allah yang penuh misteri. Bahkan Allah swt sampai membuat surat An-Nisa’ di dalam AlQur’an, seakan mengingatkan kepada kita untuk berhati–hati bergaul dengan mereka. Wanita itu, wahai Anto, diciptakan Allah dengan sifat sifat kelembutan dan kasih sayang. Perasaan mereka lebih lembut dan lebih sensitif dibandingkan kita para lelaki. Mereka memerlukan kasih sayang, dan ungkapan kasih sayang dengan kata kata adalah salah satu keperluan asasi mereka. Sesungguhnya kita para lelakipun memiliki keperluan asasi itu, namun tidak sekuat keperluan para wanita. Tahukah kau apa yang terjadi pada Rani, isterimu? Hatinya gersang akan ungkapan kasih sayang. Ibarat tanah di musim kemarau yang merindukan datangnya hujan, hati Rani sudah bertahun tahun tidak pernah disiram dengan kata-kata kasih sayang. Seharusnya kau yang menyiram hatinya dengan untaian kata kasih sayang. Namun karena kau ego dan menganggap bahwa kau tidak perlu mengungkapkan perasaanmu, maka orang lainlah yang menyirami hati Rani yang gersang itu. Saya yakin, Rani benar dengan pengakuannya bahawa dia tidak membayangkan kawan–kawan masa lalunya. Mimpi – mimpi itu muncul dari alam tidak sadar (unconscious). Rani yang sudah sedemikian kering dan haus akan siraman ungkapan kasih sayang.”
Aku merasa amat bodoh di hadapan ustadz Rahmat. Aku tidak bisa berkata apa–apa.
”Sekarang, pulanglah, mintalah maaf kepada istrimu, dan sampaikan padanya, bahawa demi Allah, kau mencintainya. Insya Allah mimpi–mimpi itu tidak akan datang lagi dalam tidur Rani.”
Sejenak kemudian aku mohon mengundur diri dan mengucapkan banyak terima kasih kepada Ustadz Rahmat. Dan, seperti biasa, ustadz Rahmat melepas kepergianku hingga pintu gerbang pagar rumah beliau, dan selalu dengan senyum khas beliau itu: senyum khas seorang Ustadz Rahmat.
Malam itu barangkali akan menjadi malam terindahku dengan isteriku. Amat sukar untuk kulukiskan dengan kata-kata, bagaimana malam itu, untuk pertama kalinya setelah hampir lima tahun menikah dengannya, aku ucapkan, ”Demi Allah, abang mencintaimu, Rani!” Bagaimana reaksi Rani, bagaimana syahdunya suasana malam itu biarlah menjadi kenangan kami sendiri. Aku tidak kuasa melukiskannya dengan kata–kata, sebab kalimat apapun yang kupilih, tidak dapat menggambarkan indahnya suasana malam itu.
Dan Alhamdulillah, setelah malam itu, Rani tidak lagi dihampiri teman–teman lamanya dalam tidurnya.
Abadikanlah cinta kami dalam ridhaMu, ya Allah!
Nilagraha, Mei 2008
Nama – nama dalam tulisan di atas adalah rekaan semata-mata, namun kisahnya adalah kisah
nyata sebagaimana dituturkan kepada penulis. Keluarga ”Anto dan Rani” sekarang tinggal di sebuah kota di Jawa Tengah, dan hingga kini dikaruniai 5 orang anak.
* SD, SMP dan SMA = tahap-tahap sekolah di Indonesia
·
Korespondensi dengan mereka bisa melalui penulis di royfathoni@yahoo. com.